Dakwaan Dari Alam Baka
Karya : Mira W
Tokoh :
1 - Rindang
2 - Pak Sabdono
3 - Pak Iksan
4 - Farida
Resensi dari novel ini anda bisa membacanya dibawah
MEDAN
Berawal dari kota Medan , seorang anak yang bernama Rindang siswi kelas 2 SMA dikenal sebagai murid yang rajin dan pintar prestasinya disekolah memuaskan. Rindang dikenal juga sebagai siswi yang dekat dengan para guru. Salah satunya dekat dengan guru olahraganya yaitu Pak Sabdono, nilai olahraga Rindang selalu bagus dan dia juga di izinkan jika tidak mengikuti olahraga. Para murid tidak pernah mempunyai fikiran kalau ada hubungan intim di antara mereka, karena Pak Sabdono yang terkenal dengan seorang guru yang sangat berwibawa , ganteng namun sudah beristri dan mempunyai 1 anak , serta sikapnya ramah santun tidak mungkin dia menjadikan Rindang seorang pacar.
Pak Sabdono juga sering mengantarkan Rindang kalau kegiatan itu menyita waktu mereka sampai malam. Dia punya motor. Dan rumah mereka searah. Jadi apa salahnya kalau Rindang membonceng motor gurunya? Tidak ada yang curiga kan?
Sudah dua bulan Rindang belum juga mendapatkan haid biasanya haidnya lancer. Tidak pernah terlambat. Apalagi absen.
Dan ingatannya kembali ke rumah gurunya. Ketika suatu malam dia mengantarkan pulang. Malam itu berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Dia tidak langsung mengantarkan Rindang pulang ke rumahnya. Katanya dia harus menengok rumahnya dulu. Saat itu istrinya tidak ada di rumah dia sedang melahirkan. Jadi dia khawatir kalau ada pencuri yang masuk dirumahnya yang kosong. Tentu saja semua itu adalah alasan. Karena setibanya di rumah Pak Sabdono tidak memeriksa pintu maupun jendela. Dia langsung mengajak Rindang mengobrol di ruang tamu. Dan bertambah malam obrolan mereka semakin hangat. Akhirnya bukan hanya kata-kata saja yang semakin hangat, tapi belaian tangannya pun semakin hangat. Terjadilah apa yang seharusnya tidak terjadi. Setelah kejadian malam itu , Rindang tak kunjung haid perutnya semakin hari sepertinya semakn besar. Rindang bingung dengan keadaan itu. Pak Sabdono memberikannya dua macam obat tablet yang dikatakannya itu hanya vitamin agar Rindang cepat haid. Bukan hanya meminum obat itu saja, setiap hari Rindang melompat, mencangkul, berlari-lari. Itu semua dilakukannya agar haid.
Setelah bulan kelima perutnya semakin membukit. Dan haidnya belum datang juga. Rindang gelisah. Dia mulai panik.bingung menyembunyikan perutnya.
Di rumah, dia dapat memakai daster longgar. Orang tuanya sibuk dipasar. Saudara dia tidak punya. Jadi dia aman di rumah. Tapi bagaimana dengan disekolah? Bagaimana cara dia menutupi perut buncitnya itu dari para guru di sekolah dan teman-temannya?
Akhirnya Rindang putus asa. Dia mencari seorang dokter. Tentunya dokter yang jauh dari rumah dan sekolah. Tentu saja dia punya harapan agar dokter itu tidak mengenalnya.
Beberapa bulan kemudian , lahirlah seorang bayi di wc sekolah. Iya Rindang melahirkan bayinya di sekolah. Seorang bayi cacat tanpa kedua tangan ada didepan matanya. Seisi sekolah gempar dengan kejadian itu. Segera Rindang dan bayi nya di bawa ke rumah sakit. Semua orang kaget dengan hal itu. Akhirnya Rindang di usir dari rumah Pak Sabdono pun tidak mau bertanggung jawab. Untung ada Pak Iksan yang mau menampungnya. Hidup bersama dengan celaan para tetangga. Namun Pak Iksan tidak menghiraukan apa kata tetangga. Beda dengan Rindang yang merasa terbebani dengan cercaan itu. Rindang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Meninggalkan bayi cacat itu untuk dititipkan kepada pak iksan.
Beberapa tahun kemudian , tumbuhlah bayi cacat itu sebagai wanita yang cantik yang diberi nama Farida. Gadis cacat namun mempunyai sengat hidup yang tinggi berusaha untuk menggapai cita-citanya sebagai sarjana hukum. Farida mencoba untuk mendaftar kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri. Banyak orang yang meremehkan kemampuannya. Tapi dari kecil Farida sudah biasa menerima cercaan itu. Sampai pada akhirnya dia diterima di fakultas hukum di perguruan tinggi itu. Dia serius menjalani kuliah karena ingin lulus sebagai sarjana terbaik di kampusnya.
Tahun telah berganti , Farida lulus sebagai sarjana terbaik. Cita-citanya kini telah tercapai, menjadi seorang lulusan sarjana hukum terbaik. Pekerjaanpun langsung dia dapatkan. Di kontor yang menangani kasus hukum.
Salah satu kasus yang sedang Farida tangani adalah kasus guru SMA yang mencabuli anak didiknya sendiri. Farida mencari informasi, bukti-bukti tentang kasus ini agar Farida bisa memenangkan kasus ini. Beberapa bulan , pencarian bukti Farida tidak sia-sia, Farida telah banyak mendapatkan bukti-bukti yang dia mau. Tapi apa yang terjadi ternyata kasus yang Farida tangani itu adalah kasus Pak Sabdono iya ayah biologis dari Farida. Pak Sabdono yang menghamili Rindang ibu kandungnya. Awalnya Farida tidak tahu tentang Sabdono, Pak Iksan menceritakan semuanya kepada Farida.
Dengan perasaan yang bimbang antara memilih ayah kandungnya tetap bebas atau memenangkan kasus ini dan memenjarakan Sabdono karena kesalahannya sendiri. Akhirnya Farida memutskan untuk tetap melanjutkan kasus ini agar bisa dimenangkan.
Di ruang peradilan, Pak Sabdono kaget ketika dia mengenali pak iksan. Dan wajahnya langsung memucat. Semua bukti telah Farida kumpulkan. Ketika Pak iksan memperkenalkan dirinya, ada setitik air mata bergulir di pipinya. Anak angkat yang dibanggakannya duduk dengan gagah di hadapannya. Dia begitu mantap, dewasa, dan percaya diri. Rasanya Pak iksan hamper tidak percaya , hamper tiga puluh tahun yang lalu , anak ini pernah terbaring tak beradaya dalam gendongannya. Tangisnya begitu lirih seolah olah memohon perlindungan , memohon tempat berteduh, memohon kasih sayang.
Sekarang anakmu membutuhkanmu Rindang. Bisik Pak Iksan dalam hati. Datanglah untuk menolongnya.Dan ketika Farida berkata kata, Pak Iksan seperti bukan anak angkatnya lagi. Dia seperti melihat Rindang. Diakah yang datang dari alam baka untuk memberikan dakwaan?. Farida berhasil memenangkan kasus ini , akhirnya Pak sabdono ayah biologisnya sendiri akhirnya masuk penjara untuk menanggung segala kesalahannya.
The End
Kita dapat mengambil amanat dari resensi cerpen “Dakwaan Dari Alam Baka” ini bisa menjadikan pelajaran hidup yang lebih baik. Hikmah yang dapat di ambil
1. Hidup butuh kesabaran
2. Kerja keras yang maksimal
3. Percaya diri , dan pantang menyerah
4. Berusaha tekun untuk mencapai cita-cita
5. Tetap semangat untuk menjalani kehidupan yang manis pahit sekali pun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar